By : Muhamad Agus Syafii
Ketika menjelang pernikahan, biasanya keluarga
besar nampak heboh, sibuk menyiapkan pesta
pernikahan, terpukau dalam gebyar pesta namun
tenggelam setelah perjalanannya, pernikahan tidak
terawat dengan baik. Akhirnya cinta itu memudar,
kasih sayang menjadi hilang. Pernikahan menjadi
hambar. Bahkan ada seorang suami yang bertutur,
‘Mas Agus Syafii, diawal pernikahan saya sangat
mencintai istri saya tetapi setelah menjalani 15
tahun pernikahan, saya lebih senang dalam
kesibukan daripada berdua sama istri. Inilah salah
satu contoh pernikahan yang tidak pernah terawat
selama bertahun-tahun sehingga bukan hanya
menjadi tidak indah lagi pernikahannya namun juga
bisa saling melukai pasangan. Menurut al Quran
surat ar Rum :21, untuk merawat pernikahan itu
adalah mawaddah dan rahmah, cinta dan kasih
sayang. Yang ideal adalah jika antara suami dan
isteri diikat oleh perasaan mawaddah dan rahmah
sekaligus. Dalam bahasa Arab, mawaddah
mengandung arti kelapangan dada dan
kekosongan jiwa dari kehendak buruk. Jadi cinta
mawaddah adalah perasaan yang mendalam, luas,
dan bersih dari pikiran serta kehendak buruk.
Sedangkan rahmah mengandung pengertian
dorongan psikologis untuk melindungi orang yang
tak berdaya.
Rumah tangga yang direkat oleh mawaddah dan
rahmah adalah pasangan dimana masing-masing
secara naluriah memiliki gelora cinta mendalam
untuk memiliki, tapi juga memiliki perasaan iba dan
sayang dimana masing-masing terpanggil untuk
berkorban dan melindungi pasangannya dari
segala hal yang tidak disukainya. Mawaddah dan
rahmah itu sangat ideal. Artinya sungguh betapa
bahagianya jika pasangan rumah tangga itu diikat
oleh mawaddah dan rahmah sekaligus. Sesuatu
yang ideal biasanya jarang terjadi. Bagimana jika
tidak? Seandainya mawaddahnya putus, perasaan
cintanya tidak lagi bergelora, asal masih ada
rahmah, ada kasih sayang, maka rumah tangga itu
masih terpelihara dengan baik. Betapa banyak
suami istri yang sebenarnya kurang dilandasi oleh
cinta membara, tetapi karena masih ada rahmah,
ada kasih sayang, maka rumah tangga itu tetap
berjalan baik dan melahirkan generasi yang terpuji.
Rahmah yang terpelihara pada akhirnya memang
benar-benar mendatangkan rahmat Allah berupa
mawaddah. Di samping mawaddah dan rahmah,
Nabi menggaris bawahi dengan pernyataan bahwa
pernikahan adalah amanah. Sabda Nabi wa
akhaztumuhunna bi amanatillah, artinya, ‘Kalian
mengambil pasanganmu sebagai isteri (atau suami)
adalah berdasar amanah Allah.”

Sahabatku, yuk..aminkan doa ini agar keluarga kita
menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah. ”
Rabbana hab lanâ min azwâjinâ wa dzurriyyatinâ
qurrata a’yunin waj-’alnâ lil-muttaqîna imâmâ.”
Artinya, Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami,
pasangan kami dan keturunan kami sebagai
penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin
bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqan: 7
4).