Selain persahabatan, salah satu bentuk hubungan antara manusia [terutama laki-laki dan perempuan] yang intens adalah pacaran. Pacaran adalah proses seorang laki-laki atau perempuan menemukan adanya kesepadanan antara keduanya, dengan tujuan membangun keluarga; suatu proses untuk saling mengenal antara dua orang [laki-laki dan perempuan]. Karena itu, masa pacaran adalah waktu untuk menemukan [dan   temukan]  pasangan yang tepat dan terbaik agar menjadi suami atau isteri.
Akan tetapi, seiring dengan perkembangan sosial, budaya, psikologis, dan lingkup pergaulan, maka hakekat pacaran tersebut telah bergeser. Tidak semua
masa pacaran berakhir dengan perkawinan. Pada kondisi tertentu, pada satu sisi, pacaran hanya sebagai hubungan sosial yang hampir tidak bermakna dan sekedar mengisi kekosongan; sehingga terjadi berganti-ganti pacar. Namun, di sisi lain, pacaran merupakan suatu proses yang bermakna karena menentukan hidup dan kehidupan selanjutnya. Dengan demikian, pacaran dikategorikan menjadi pacaran gaul [dalam rangka pergaulan] dan pacaran menuju perkawinan. 
Pacaran dalam rangka pergaulan. Merupakan pacaran karena memang harus pacaran. Berpacaran, karena alasan yang beragam untuk menjalaninya, misalnya, agar dianggap sudah dewasa; dan juga karena orang lain sudah pacaran, dan saya harus lakukan yang sama; dan hampir tidak ada satupun alasan untuk meneruskan ke jenjang pernikahan. Bisa terjadi atau dilakukan oleh remaja usia belasan tahun; atau bahkan mereka yang sudah mahasiswa. Biasanya hanya merupakan sarana untuk mengisi kebutuhan agar bisa dicintai atau mencintai seseorang atau orang lain [yang bukan anggota keluarga]. Pacaran gaul, pada umumnya karena adanya daya tarik erotis, misalnya wajah cantik atau ganteng, postur tubuh, kesamaan hobi serta minat, dan lai-lain. Sehingga gaya hubungan yang terjadi bersifat kegiatan untuk mengisi waktu luang; pergi berdua; sarat dengan cemburu dan pertengkaran; selalu mau dinomersatukan. Jika ada ketidakcocokkan maka jalan terbaik adalah bubarnya hubungan.
Pacaran menuju perkawinan atau pernikahan. Merupakan membangun relasi [antar lawan jenis] dengan suatu kepastian; biasanya sudah atau telah melewati berbagai pertimbangan yang matang; dan bahkan tidak mementingkan daya tarik erotis atau tampilan fisik tertentu. Karena  adanya tujuan yang pasti tersebut, tidak lagi diisi dengan sekedar hura-hura masa muda, tetapi melakukan pengenalan mendalam tentang kepribadian, keterbukaan, kejujuran serta kesetiaan karena Agape.
Pengenalan kepribadian; menyangkut sifat, sikap, kedewasaan psikologis dan rohani, luasnya wawasan dan sebagainya. Keterbukaan; menyangkut latar belakang status sosial, keluarga, pendidikan, pekerjaan, dan lain-lain. Kejujuran; hampir sama dengan keterbukaan, namun lebih menyangkut kesusaian antara kata dan kenyataan. Kesetiaan; menyangkut ketaatan pada komitmen yang telah dibuat atau disepakati bersama.

Pada saat ini, mementingkan saling pengertian, pengenalan dan penyesuaian kepribadian. Dalam sikon itu, ada batasan yang harus disepakati dan ditaati bersama, misalnya, menghindari sikon yang menjadikan perasaan dan seluruh perhatian hanya ditujukan kepada dia, akibatnya tidak mampu melakukan apapun secara normal dan teratur; menghindari gangguan akademis, hasil ujian jeblok, terganggu kesehatan tubuh dan kesehatan jiwa; tidak terbuai dan tergoda melakukan tindakan-tindakaan seksual atau hubungan seks pra-nikah dan di luar nikah; saling mendorong dalam perkembangan dan pertumbuhan akademis, kedewasaan rohani; dibungkus oleh Agape.Image